Showing posts with label family. Show all posts
Showing posts with label family. Show all posts

Monday, 3 February 2014

What would you choose?

Suka iseng nanya ke Raka seperti ini:

"Mama boleh ke kantor?"
Atau
"Mama boleh kerja?"
Or
"Mama boleh sekolah?"

Jawabannya selaluu..

"Nggak!"
Or
"No!!"
Bahkan teriak marah:
"MAMA DI RUMAH AJA!"
Pernah sambil sedih menjawab gini:
"Aka kan mau cama Mama.."
T_T

Mencelos gak sih.. Selalu pengen jadi fulltime housewife/SAHM klo abis gitu.. Bye bye sekolah, ga pengen lagi ngantor or berdedikasi diluar rumah. I just want to be at home with my babies and watch them grow into men.

*lempar ijazah, SK beasiswa dan CV*

Huhu.

If you were me, what would you choose?

Tuesday, 17 December 2013

Daddy

I was browsing my brother's Facebook page and saw a post about our late father. He posted it on Dad's birthday on November 25th. He would be 60 years old.

I felt tears welling up inside, I know that I miss him. Often when I look at Rayi, I get reminded of him. There is something about Rayi that reminds me of him. Maybe it's the mouth. Maybe it's the thick eyebrows. Maybe it's just Rayi's fierce stare that reminded me of his strongwilled grandpa.

My daddy died when Rayi was 2 months in the womb. A few days before his death, he told me that the baby would be a boy, and that he wanted to chip in when we name him. He was right on the former, although at that time I insisted I was having a girl. So I guess I always feel that there's a piece of him that is left in Rayi.. because when he's gone, Rayi was born.

We had our differences, he wasn't always the greatest father and I wasn't always the greatest daughter. But there is no doubt about it, he is my daddy. He was my daddy when I was little, he was my daddy who wedded me and gave me away to my husband.

Rest well, Daddy.

This entry was posted in

Friday, 13 September 2013

When the going gets tough, the tough gets going

Today has not been a good day. I hardly slept at night because Raka was very fussy last night, poor baby, he hardly slept too. I don't know why. Is it because he knows his mum is stressed out (from thinking when she is going into labour since she's not felt anything yet), or because 'something' is bothering him (ga tau sih, tapi kayaknya hampir tiap malam Jum'at dia ga bisa nyenyak tidurnya deh, huhu, apa ada yg gangguin gitu??), or he knows that his brother is coming, and he's stressing himself out over it??? Biasanya anteng dia tidur semalaman, tapi semalam bener2 deh... maunya dipegang sama saya dan maunya nempel sama nenen terus. Something is definitely making him insecure.
Ternyata masih berlanjut pas dia bangun. Biasanya kalau malamnya ga nyenyak, pas bangun sih udah ceria lagi. Tapi tetep masih rewel. Diliat2 sih ga ada yg sakit physically, tapi entah kenapa masih tetep rewel dan tetep minta nyusu terus, terutama pas tidur siang. Yg biasanya nyenyak tidur siangnya, tadi tuh penuh drama karena tiap dilepas PDnya dia ngamuk :(

Then in the morning Akang SMS, ngabarin kalau pamannya (adik Papah mertua) meninggal dunia di Bandung. Innalillahi wa inna ilaihi rajiuun. Sediih.. Untung sempat jenguk beliau waktu ke Tasik pulangnya mampir ke Bandung, bela2in dengan kondisi hamil 7 bulan naik bis umum, angkot, becak menerjang macet yg naudzubillah saat itu. Semoga beliau khusnul khatimah. I was like, Ya Allah, kenapa pas hamil Rai ini banyak banget kita ditinggal orang2 yang kita sayang. Dari mulai Enin, Papa, sampe Mang Yuyun... Dan sempet galau juga karena salah satu uwa saya (kakak sulung Mama) sekarang juga lagi kritis di RS di Bandung juga :'''( Sempet berdoa "Ya Allah, tolong jangan panggil Mamih dulu sampai Rai lahir... I can't bear to face another death in the family..." Dan ternyata bukan Mamih yg dipanggil duluan, tapi Mang Yuyun :'(

Andaikan malam ini gak ada janji ke Budokter kayaknya Akang bakal langsung ke Bandung. Tapi jadinya besok pagi, tentunya sendirian karena riskan kalau saya pergi takut brojol di jalan karena sekarang udah 38 minggu usia kandungannya.

Akhirnya mau olahraga dll jadi gak semangat. Selain lemes kurang tidur, hati juga gak menentu. Ya udah, diputusin buat goyang2 di birth ball aja sambil dengerin hypnobirthing. Ternyata ditengah2 goyang2 itu, tiba2 pecah birth ball-nya. Sepertinya terlalu keras dipompanya jadi tekanan terlalu tinggi makanya robek deh. Huhu tambah sedih. Is it a sign of something bad to come?

Aduh jangan sampe yaaa.. Malam ini mau ketemu Rai lagi di Budokter. Actually I'm afraid that the exam might reveal something bad. Ini kok rasanya posisi Rai lagi aneh lagi, setelah kemarin sempet sungsang dan berhasil muter ke bawah, ini rasanya either sungsang, atau dia di posisi posterior (kepala menghadap ke perut ibu) padahal untuk melahirkan yang ideal posisinya anterior (kepala menghadap punggung ibu) supaya pas keluar lebih mudah.

Jadi akhirnya berusaha positive thinking: WHEN THE GOING GETS TOUGH, THE TOUGH GETS GOING. Kira-kira, kalau things already go really bad, it can't get any worse and can only get better from there. Well, semacam titik balik lah. Akhir2 ini emang terlalu dibuat stress sampe nangis2 ga jelas sendiri huhu. Semoga ke depannya lebih cerah. Semoga malam ini saya keluar ruang periksa dengan optimisme dan kebahagiaan, whatever the outcome may be.

Semoga bisa mengikhlaskan apapun yang terjadi dan ada di depan saya.

Pray for us, ya!

Monday, 24 June 2013

Motherly Instinct

...sesimpel anaknya ngidam KFC, tiba2 dibawain ayam KFC yg diidamkan sama mamanya.

Kejadian kayak gini ga cuma sekali, tapi seriiiing banget. Seminggu yang lalu ngidamnya pempek, eh ndilalah pulang dari luar kota bawa sekotak kardus isi pempek. Dari hamil pertama sampe nyusuin Raka (yang mana pas hamil dan nyusuin pasti sering ngidam makanan kan) ga perlu minta bawain ini itu, tiba2 udah dibawain aja sama Mama. Padahal ga pernah cerita sama sekali lagi pengen makan ini itu.

Hebat yah, padahal Mama juga mungkin ga sadar kalo anaknya ngidam segitunya. Soalnya ga bilang siapa2, cuma pengen aja.. tp mau beli kadang ga sempet atau males. Tapi pas ngidam KFC ini, siangnya SMS Akang minta dibeliin KFC, tapii tiba2 sore2 ada 2 kotak KFC diantar supir Mama, buat saya sama Raka katanya dari Mama :') Jadi aja SMS Akang nitip KFC-nya dibatalin. Subhanallah ya.

Dulu juga pas jauh2an kuliah di Bandung dan di Aussie, kalo lagi sedih atau galau gitu, jarang curhat ke Mama. Kan pemalu saya, bukan tipe yang suka curhat2 ke ibunya gitu. Tapi Mama tiba2 suka nelpon atau SMS, kadang frontal banget sampe nanya "Kaka baik2 aja?" Padahal itu lagi nangis2 hahaa. Bisa tau gitu si Mama.

Sekarang sih pas serumah, malah kadang lebih sering ngerasa ga sreg-nya. Maafkan Mamaaa.. Ya kadang bentrok lah biasanya masalah pengasuhan anak. Padahal Mama udah baik banget ya dibiarin numpang di rumah, makan dibiayain (saya cuma nyumbang biaya listrik bulanan sama tambahan buat para ART), dulu lahiran Raka dia nyumbang lumayan besar juga supaya bisa upgrade ke kamar VIP, mainan Raka juga banyak dibeliin Mama karena saya pelit beliin mainan (hehe maaf nak) dari yg printilan kecil sampe walker, sepeda, baby box yg beliin Mama... Huhuhu...

Semoga saya bisa jadi ibu yang tanggap sama perasaan dan kebutuhan anak2nya seperti Mama.

I love you Mama..

Thursday, 18 April 2013

Why I had to resign

8 working days until my resignation. . .

Setiap perempuan masa kini pasti tidak gampang memutuskan untuk resign dari full time job-nya demi mengurus rumah tangga. Apalagi dalam kasus gw, nyokap kerja full time udah 30tahunan lebih dan bisa dibilang beliau sendiri yg membiayai gw dan adik gw dr SMA sampai pada S2. (Don’t ask about what my late dad did) Dan suami pun mendukung 100% gw untuk bekerja supaya bisa mengaplikasikan ilmu yg gw dapat. Tapi jujur, I did not enjoy it that much. Entah karena memang bidangnya tidak sesuai passion, lingkungan kerja yg tidak mendukung gw berkembang, atau apapun itu. 

Yang jelas gw resah. Call me naïve, tapi gw resah karena gw ga bisa mendidik Raka dan spend time with him the way I want to. Gw resah karena gw juga gak bisa total melayani suami dari hal kecil masakin buat dia, bahkan nyiapin baju kantornya dia, karena malam gw capek pulang kerja (gets worse after 2nd pregnancy, pulang kantor justru suami yg mijitin istri atau ngambilin makan atau minum kalau lagi tepar istrinya), pagi2 pas dia siap2, gw masih tidur karena malam2 buta gw pasti lagi begadang nemenin Raka, jd gw harus tidur lagi abis Subuh kalau nggak gw lemes di kantor. Terus kapan dong gw bisa jadi istri sholehah yg ngurus keluarga?

Dari dulu emang gw gak berambisi punya karir cemerlang sih. Yg kebayang di pikiran gw, jujur, cuma bisa kuliah sampe S3. Tapi gw gak kebayang mau kerja jadi apa. Tapi gw haqqul yaqin bahwa niat gw adalah membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, rahmah, barakah. Makanya gw bersyukur banget Allah mempertemukan gw sama Akang, yang kalau diliat, kita bagai langit dan bumi, dan saking bedanya kita it seems impossible that we were destined to meet at all. Dari pergaulan aja udah beda, umur juga beda jauh, ya paling suku aja kali ya yang mirip.. tapi namanya takdir Allah. 

Allah baik banget sama gw menjodohkan gw dengan suami gw yg ternyata everything that I’ve been looking for. Gw gak pernah niat nyari suami ganteng, kaya, dll. Jaman galau dulu sambil nangis2 di sajadah gw cuma minta Allah kasih gw jodoh yg bisa mendekatkan diri gw kepadaNya. Yg sevisi sama gw dalam tujuan pernikahan, yaitu in the end, meraih surgaNya. As simple as that. Jadi, gak perlu waktu lama sebelum akhirnya Akang dulu menanyakan ke gw tujuan pernikahan itu apa, dan ternyata sejalan dengan dia. So, 2 bulan saja cukup untuk dia akhirnya menyatakan akan meminang gw dari pertama kali berjumpa dengan gw.  (ehm, although, we did feel that chemistry the first time we saw each other, padahal waktu itu belum kenal sama sekali!). Meskipun dalam prakteknya, 6 bulan kemudian baru resmi khitbah atau dilamar dan 6 bulan lagi akhirnya menikah (jadi dulu gwnya gak diijinin kawin sebelum lulus S2, pas lulus, gak bisa buru2 karena jadwal Akang yg masih kuliah di negeri kangguru sono).

Jadi sekarang, gw punya suami baik hati dan bertanggungjawab. Gw kadang merasa I did not do enough for him in return. Sebagai istri, I could have done more. Ya yang namanya istri pastinya harus berbakti pada suami dong. He’s done his part as good husband and father.. and what have I done as his wife and mother to his kids?

So then I resigned from my full time job. Hari ini, seperti diingatkan lagi kenapa gw harus resign. Awalnya baca postingan di blog langganan punya Indah, trus tiba2 lagi stalking FB temen melalui akun suami, nemu cerita ini. Dan semalam, Akang ngasih tahu kalau salah satu temen kita ada yang cerai. Kata Akang, mungkin karena si istri kurang ngurusin suaminya, karena yg kita lihat dia emang kebanyakan ‘gaul’, main mulu sama temen2nya, suami dan anak2 ditelantarkan. Kenapa Akang berpikiran gitu? Karena Akang guru ngaji anak2nya. Mereka susah banget belajar ngajinya karena gak pernah diajarin di rumahnya. Dan Akang mempertanyakan, si ibunya ini gak kerja, trus kerjanya di rumah ngapain aja kalau anak2nya gak diajarin ngaji dan akhlak yang baik? Padahal keluarga itu aktif di TPA dan kegiatan2 sosial lainnya. Jadi Akang pesan sama gw, Raka harus gw yg ngajarin ngaji nanti. Oiya, beberapa hari sebelumnya juga, gw cerita ke Akang kalau ada ibu2 yg datengin gw ke kantor mau daftarin anaknya sekolah di luar negeri. Dia tanya2 macem2, karena tujuannya biar anaknya dapet pendidikan, lingkungan dan pekerjaan yg bagus nantinya. Kenapa? Karena, dia bilang, suaminya udah berapa kali wanti2 ke dia “Pokoknya anak2 tanggungjawab kamu! Kalau mereka kenapa2 sekolahnya atau pergaulannya, saya salahin kamu!” dan Akang bilang, "Si bapak gak salah ngomong kayak gitu. Yang namanya ibu memang kurang lebih tanggungjawab sama anak2nya apalagi kalau dia nggak kerja, berarti waktunya harus lebih didedikasikan buat mendidik anak2nya dengan baik."

Jadi for now, I’m really not interested in any full time job. Justru gw lagi nyari kesempatan untuk kuliah lagi, karena sebenarnya dari dulu itu yang gw pengen. Apalagi dengan ada anak2, gw juga bisa ngajak mereka keluar negeri dan kasih mereka kesempatan hidup di negara, atau kota, yang lebih child-friendly (face it, Jakarta is NOT child-friendly: pollution, traffic that keeps parents away from children for longer times, education system that’s costly but not necessarily good quality, etc etc). 

Kalau masalah gw kehilangan penghasilan, ya masih berpendapat tiap anak ada rejekinya. Selama ini Akang did a great job keeping the family together in terms of finance, gaji gw jarang dipake buat kebutuhan keluarga tapii gak banyak juga yang bisa ditabung or diinvestasikan karena habis di ongkos dan pengeluaran pribadi that comes with the job. Jadi I'm not too worried with the consequences of single income. Masalah gw tidak punya ruang mengaktualisasi diri – apalagi dengan embel2 gelar Master dari LN – well, I never felt this job gave me that ‘room’ anyway. Maybe in another job. Or maybe, aktualisasi diri gw justru saat gw berkutat dengan proposal riset or actually doing the research itself. Artinya, mungkin passion gw ada di kerjaan lain yang bisa bikin gw merasa bisa mengaktualisasi diri. Jadi, resigning from this position gak membuat gw kehilangan kesempatan aktualisasi diri, karena selama ini gak merasa gitu anyway.

What a long and emotional post. Airmata udah di ujung pelupuk pas nulis tentang Akang (feeling guilty here). Semoga setelah gw resign, dikasih kesempatan jadi istri dan ibu yang lebih baik. My husband never asks for anything, never complains to me, even though I never gave him much. It’s time I do what I’m supposed to do, my full time job is being wife to Akang and mother to Raka and Rai. That's all that matters.

Friday, 15 March 2013

Anak Yatim

Felt ages since my last post, which is ternyata ga lama2 banget ya. Malas blogging meskipun ingin karena merasa masih berkabung aja hehe. Takut malah jadi mellow dan curcol ga karuan.

 

Well, sadly, in the beginning of Rai’s pregnancy, we had to endure not one, but TWO tragedies alias loss of 2 of our closest family members. Yap, tanggal 21 Januari kemarin Rai (dan Raka) kehilangan uyut satu-satunya alias Enin, my grandma. Di saat itu, bokap juga sakit2an dan akhirnya dipanggil pula tanggal 2 Maret kemarin ini, persis beberapa jam setelah kami di rumah ngadain pengajian 40 hari meninggalnya Enin dan minta ibu2 pengajian doain Papa juga yang lagi di RS (sebelumnya sempet masuk ICU, koma, tapi pas pergi sih dengan damai di ruang perawatan, konon katanya).

 

So, I am officially “anak yatim” *santuni dong #eh*

 

Yang bikin nyesek, waktu Enin maupun Papa meninggal, saya lagi dalam perjalanan ke rumah sakit jadi ga melihat detik2 terakhir beliau2. Jadi dateng2 udah ga ada aja. *hiks*

 

My grandma, the woman who endured pregnancy 17 times, gave birth 15 times and raised 15 children who all reach success, I’m sure she died khusnul khotimah and that Allah has given her a place in heaven. As for my dad, that’s another emotional rollercoaster that I think I’m still bottling up the feelings until now *nah kan curcol* Udah udah.

 

Let’s talk about something a little lighter and more exciting, like the big progress of our house which will be ready by mid-2013 (amin), my new job starting next month, etc etc… to be continued J

Friday, 25 January 2013

Good bye, Enin...

 I lost my only grandma in the beginning of the week. Last Monday, 21st January 2013, she left us - her 15 children, 54 grandchildren, 37 great-grandchildren and numerous in-laws and grand-in-laws - to be with her Creator, Alloh SWT.

The saddest part is, we couldn't see her during her last minutes, we were stuck in Jakarta's Monday morning traffic. :'''''''((((

Good bye, Enin. Insya Allah khusnul khotimah ya, banyak banget yang mendoakan Enin. Semoga dilapangkan di dalam kubur, bisa dipertemukan dengan Aki di Surga dan berada di sisi Alloh SWT dan mendapat syafa'at Nabi Muhammad SAW.

We love you, our superwoman granny.

Wednesday, 12 September 2012

Future Education Planning

Today's chat on GTalk:

Wichitra: assalamu'alaikum wr wb

Tatas: Waalaikumsalam wrwb

Wichitra: akang, kemungkinan nanti sore eneng pulang telat, mau ke carrefour/poins square beli usb modem buat kantor, mau dipake sabtu

Tatas: emng d ktr skrg ga ad internet?

Wichitra: buat hari sabtu kan mau ikut expo di sekolahan

soalny data yg dtg mau langsung dimasukin ke database on the spot, biar ga banyak kerjaan di kantor sesudahny.. krn biasany klo expo jaga stand gitu pas sepi kan bengong2 aja

Tatas: oh gitu, iya

Wichitra: jazakallah khayr

oot: klo eneng mw PhD atw MPhil gmn yaa.. kok tiba2 jd pengen hehehe

Tatas: kalo ad kesempatan, d ambil saja

Wichitra: iya, dr kmrn udh kepikiran topik2 research gitu.. masih seputaran pendidikan dan pembangunan bangsa ky dulu waktu thesis, tp lebih diperdalam lagi krn kemaren kan case study baru 1 kasus doang

aplg skrg lbh banyak opportunity untuk beasiswa selain ADS dan endeavour ada beasiswa dikti dll juga

klo liat student2 yg kesini mau apply reserach program sprt PhD, liat proposal mereka dan kemampuan mereka, jd mikir sbnerny eneng jg bisa kyny

dulu waktu baru lulus s2 kan masih ga pede mau lanjut :D

Tatas: kl kira2 ad yg peluangx besar d ambil saja..

tp hrs jelas jg kedepanx mau jadi apa, kl cm sekolah doang tp tujuanx blm jelas, mendingan jgn

jauh lbh baik urus anak d rumah, d bekalin dgn ilmu agama biar jd anak yg soleh.. hasilx lbh nyata


JLEBB!! *pasang ikat kepala*

Monday, 12 March 2012

Badai Sakit

Dah hampir sebulan ga ngeblog yee.. Here's why:

suami sakit DBD yang mana harus opname 5 hari...pake Askes PNS which is... yah intinya makes us consider getting private health insurance (tp mahal ya.. hiks). Pokoknya total suami sakit itu sampe 2 mingguan, And you know what, lebih ribet ngurus suami sakit drpd anak sakit lho.. ngeyelnya itu lho, jadi tambah stress kan yg ngurus!

suami dah pulang RS.. lanjuuutt.... Raka deh yang sakit. Common cold parah pertamanya ketularan Eninnya yang udah batpil 2mingguan, demam sampe 38,5 dercel di malam buta, rewelnya luar biasa. Alhamdulillah cuma 2 harian demamnya, cukup diturunkan pake ASI dan skin2skin. Tempra drops masih terbungkus rapi dikemasan,ditaro dikotak tersembunyi dipojok ruangan biar ga tergoda untuk makenya :D

..oke, demam Raka dah turun. Tapi batuk berdahak masih. Nyantai... CC kan emang bs berminggu2, itu self-limiting disease alias hilang sendiri tanpa obat. Eh eh tapi akhirnya tumbang deh si Mama Raka abis diajak begadang sama Raka dan ehm, topless-an. Hallo CC.. welcome to my body!!!

Sekarang masih nih, tp udah lewat masa parah yg hidung mampet parah dan kepala berat dan badan linu2. Minum parcet cukup 2x pas sakit tak tertahankan. Slebihnya minum air hangat sebanyak mungkin. Istirahat harusnya utamanya sih.. tp anak jg masih rada sakit jd susah jg mw bobo2 cantik, pas mau merem kepikiran Raka bentar lg dateng sama Mbaknya minta mimik. Jd seharian Raka cuma saya pegang buat nenen aja, selebihnya si Mbak yang pegang dia. Maksudnya biar ga ketularan. Ehh blum lagi ini anak growthspurt bo.. klo mlm minta nenen 2jam sekali. Hihiy... Sungguh zombie mama sekali sayah.. bak punya newborn yah, dengan daya tahan tubuh yg menurun tapinya :( (abis dulu kuat bgt begadang2 masih berdiri tegak..sekarang haiyahh..)

Nah sekarang lg recovery.. tapiii Raka yg kemaren batuknya udah berdahak, kok sekarang mulai batuk kering lagi. Ngerii virus CC nya kena lagi ke dia.. padahal dari kemaren udah pake masker dan selalu cuci tangan pake hand rub tiap mau pegang Raka. Pun sudah meng-isolasi diri di kamar sementara Raka dipegang Mbak. Huhuww.. kutaksanggup klo harus begadang topless-an lg sambil gendong2 anak. Mudah2an td batuknya karena udara yg kurang bersih bukan virus yg pingpong. Amin!
This entry was posted in

Tuesday, 31 January 2012

Mini Me

Hampiir semua orang bilang Raka mirip Mamanya, especially his huge eyes :)) Apalagi orang yang tahu gimana rupa saya waktu kecil, langsung dibilang he is the splitting image of me. Masa sih? Sampai akhirnya saya melihat foto ini, diambil waktu saya kecil...

It's Raka... with earrings??!?
OMG beneran mirip haha.. apalagi pas Raka masih ada rambutnya. Sayang foto2 Raka berambut seperti ini hilang pas saya install ulang OS di handphone... yang paling mirip posenya yang kaya gini nih:

mirip banget yaahh!!
Kasian Akang ga kedapetan mirip kecuali jenis kelamin, meskipun gaya tidurnya sih mirip Akang, sama bentuk mukanya sedikit kotak kaya Akang, dan kalo udah kerung2 mikir mukanya persiiis papanya :)

Friday, 21 October 2011

Papah

Orangtua kita, disamping memberi kita kehidupan, juga pasti memberi kita inspirasi dan jadi sosok yang paling kita kagumi. Begitupun dengan saya, seumur hidup saya sangat mengidolakan ibu saya.. tapi saya tidak akan menceritakan tentang dia, karena sudah sering saya -- dan banyak orang lainnya, karena dia tidak hanya menjadi 'ibu' bagi saya dan adik saya :) -- berkisah tentang kehebatannya.

Kali ini saya ingin berbagi cerita tentang orangtua 'baru' saya, tepatnya ayah mertua saya. Beliau sekarang berusia 71 tahun, seorang pensiunan guru PNS. Saya kagum dengannya karena kesederhanaan dan kecintaannya kepada keluarga. Alhamdulillah sampai sekarang beliau sehat jasmani rohani dan tidak pernah mengalami masalah kesehatan yang berarti. Kata suami saya memang beliau tipe yang tidak bisa berdiam diri di rumah, selalu berkarya mengerjakan sesuatu. Di usia senjanya kini juga beliau masih mengajar di salah satu SMA swasta, disamping aktif di kepengurusan masjid.

Ada beberapa kejadian yang berkesan yang membuat saya kagum dan terharu, dan bangga memiliki ayah mertua yang begitu sayang keluarganya. Salah satunya ketika saya dan suami menikah, seusai resepsi di Jakarta, suami pulang dengan saya ke rumah orangtua saya, sedangkan keluarga suami langsung kembali ke Tasikmalaya. Suami rupanya lupa mengambil kembali handphone yang dititipkan ke saudaranya, walhasil terbawa ke Tasik handphone-nya. Keesokan harinya, tanpa diminta, Papah langsung berangkat dari Tasik ke Karawang, ke rumah adik ipar saya, hanya untuk mengantarkan handphone suami saya. Beliau langsung kembali ke Tasik hari itu juga, karena ibu mertua di Tasik tidak ada yang menemani. Bayangkan beliau pasti masih capek dengan perjalanan Tasik - Jakarta - Tasik, dimana pas di Jakarta energinya juga pasti terkuras dengan acara pernikahan kami.. namun tetap berangkat esok harinya hanya demi mengantarkan handphone anaknya.

Beliau juga selalu setia menjemput dan mengantar kami ke terminal atau pool bis di Tasik, kalau kami lagi mudik kesana dari Jakarta. Padahal kami sering bilang naik taksi saja, tapi beliau bersikeras. Pernah kami terjebak macet pada saat perjalanan ke Tasik, yang membuat waktu tempuh perjalanan menjadi 2x lipat. Sementara itu Papah menunggu di pool bis. Papah tidak punya handphone, kami hanya mengabarkan melalui telepon rumah saat belum terjebak macet bahwa kami sedang dijalan. Jadi tanpa tahu bahwa kami akan datang telat, Papah menunggu di pool bis berjam-jam.. terbayang oleh saya setiap bis yang datang dari Jakarta dia menunggu dan menanti anaknya turun dari bis. Begitu kami datang pun, tidak pernah sekalipun dia komentar berapa lama dia menunggu, semua dilakukannya dengan ikhlas dan kasih sayang.

Saya bersyukur saya bisa diberi kesempatan oleh Allah SWT mendapatkan orangtua 'baru' yang begitu inspiratif.. semoga suami saya juga kelak bisa menjadi ayah yang baik seperti Papah kami. Dan kami juga selalu mendoakan Papah, semoga kami semua sekeluarga bisa merajut kasih sayang seperti saat ini di surgaNya nanti...amin!

Tuesday, 18 October 2011

Enin

Enin, begitu saya menyebut nenek saya dari ibu. Beliau adalah salah satu sosok yang saya kagumi. Terlebih lagi saat saya hamil, saya jadi semakin kagum sama beliau. Mengapa? Karena beliau pernah hamil hingga 17 kali! Yang dua pertama tidak dapat lahir, tapi beliau berhasil melahirkan dan membesarkan 15 orang putra-putri bersama kakek saya. Respek saya untuk beliau makin besar sekarang saya hamil, tiap saya merasakan keluhan-keluhan yang tidak enak, saya teringat Enin yang mengalami ini selama 17 kali dan malah jadi tambah kuat, jadi saya tidak ada apa-apanya dibanding perjuangan beliau dulu :)

Beliau wanita sederhana yang dinikahi kakek saya saat berumur 16 tahun. Di usia yang belia itu beliau sudah menjalankan peran sebagai istri, kemudian ibu, dan hidupnya seputar keluarganya yang berjumlah 17 orang itu. Tapi wanita sederhana ini berhasil membesarkan 15 orang anak yang semuanya Alhamdulillah bisa dibilang sukses. Sekarang dari 15 orang anak, tidak terhitung jumlah cucunya, terakhir sih kalau tidak salah hampir mendekati 100 lho dengan para mantu, belum lagi cicit-cicitnya! :D

Sekarang Enin tidak muda lagi. Usianya sudah 80an tahun. Hebatnya, beliau masih segar bugar, ingatan masih kuat dan stamina juga. Beliau masih kuat berada di sawah, sayang anak-anaknya tidak mengizinkan lagi karena di kampung dia sendirian tanpa ada yang menemani (Aki sudah meninggal dari tahun 1987). Dulu saya berdoa beliau bisa melihat saya wisuda, Alhamdulillah dikabulkan, lalu saya menikah, dan sampai sekarang akan punya anak saya juga berdoa beliau bisa mendampingi dan melihat anak saya.

Semoga Enin selalu sehat sentausa dan dilindungi Allah subhanahu wata'ala. Amiin ya rabbal 'alamiin.

Wednesday, 7 September 2011

Nesting Instinct

It's almost a miracle!! Si Eneng Wichi yang slordeuh ini jadi mendadak doyan bener beres2! Ini ya yang namanya "nesting instinct".. Alhamdulillah akhirnya datang juga disaat yg tepat ahahaa..

Jadi saya tuh termasuk tipe perempuan bukan fanatik kebersihan..yes, I'm messy. Dan saya betah banget hidup dengan segala keberantakan itu hehe. Parah deh.. suami udah sering complain sampe kadang dia sendiri yang beberes karena si istri cuek aja barang2 disana-sini. Ga percaya, coba tengok kamar saya waktu di Brisbane:


Kadang saking parahnya, sampe karpet dilantai dan kasur pun ga keliatan saking ketutupan barang2. Heheee.. Ini biasanya kalo lagi sibuk ngejar deadline assignment dll.. yg berserakan biasanya kertas2, dan baju2 kusut tak tersetrika.

Semenjak nikah, ga gitu banyak berubah sih. Haha. Yaa beres2 sih beres2 tapi seadanya, itu juga kalo udah ditegur suami. Begitu balik ke Indonesia, tinggal di rumah ortu, ada Mbak yang beresin dan ngurus segala imacam urusan rumah tangga seperti nyuci, masak, dll.. kan sekalian gitu. Bahkan nyiapin baju kerja harus suami sendiri yg ngelipet pagi2 krn saya habis shalat Subuh langsung bobo cantik lagi. Setelah agak keras ditegur, baru deh sekarang rajin tiap pagi nyiapin baju kerja suami. Jangan ditiru ya ibu-ibu...

Menjelang Lebaran, para ART pun pada mudik.. dan saya dan Akang kebagian jagain rumah, karena sekeluarga pada pergi umroh dan Lebaranan disana. Sebenarnya kami menawarkan diri sih, daripada rumah kosong takut kenapa2, meskipun ada sedikit penyesalan pas menjalaninya karena beneran selama libur lebaran itu kita dirumah aja, ga main ga apa.. disaat orang2 pada jalan2 dan mudik dan silaturahmi dengan sesama.. apalagi waktu nelepon mertua di Tasik yg terdengar sumringah sekali dan jadi susah ngomongny karena disana lagi rame sama ipar2, ponakan2, bibi2, sepupu2 dan sodara2 lainnya :( sungguh sedikit nyelekit rasanyaa.. Tapi disyukuri aja dah, toh Alhamdulillah masih bisa berdua sama Akang..dan ya udah terbiasa tiga tahun terakhir Lebaran dihabiskan cuma berdua aja sama dia. 

Anyway, pas ART mudik, jadilah kita housesitter berdua. Akang ngerjain tugas2 yg biasa dikerjain ART cowo, dan saya ngerjain bagian si Mbak seperti masak, beres2, cuci-strika dll. Lumayan cape ternyata, apalagi harus nyiapin sahur dan buka sendirian.. untung saya udah ga puasa karena masih sering mual-muntah. Saat orang pada bete Lebaran ditunda sehari, saya (yang ikut misuh2 sama org2 yg pada heboh caci-maki dan komentar macem2 tentang polemik hari Lebaran itu.. I think what the government did was legitimate and there's nothing wrong with it) justru bersyukur karena belum sempet masak2, soalnya ga dibolehin sama Babybee.. perutnya kontraksi terus :( Sampe sempet nangis saking pengennya masak dan mengerjakan ini-itu tapi apa daya fisik tak mampu.

Alhamdulillah, di hari Lebaran, sempet juga makan menu Lebaran meskipun seadanya banget:


Dan ini beneran bikin sendiri tanpa bantuan orang lain, not even Akang (yang 2 thn terakhir ikut bantuin masak..giliran istrinya hamil tua malah ga sama sekali -_-") Yah meskipun curang dikit oporny dikasih bumbu instan (tapi tetep kok ngulek2 ketumbar bawang etc) Jadi lumayan gempor.. mana kali pertama bikin ketupat, biasanya ketupat instan atau pake plastik (maklum tahun2 sebelumnya lebaran sendiri di negeri orang yg ga kenal daun ketupat..kalo sebelumnya kan bareng keluarga, bukan bagian saya ngurus ketupat). Tapi Alhamdulillah semua jadi :)

Di akhir liburan dapet kabar kalo para ART (Mbak, ART cowok dan supir) baru balik seminggu setelah Lebaran, padahal orang rumah pada kerja dan kuliah (Mama, Ade, Akang, ade sepupu), kecuali saya. Yak, jadilah saya ibu rumah tangga sejati, setelah 9 bulan jadi ibu rumah tangga abal2 yg kerjanya cuma makan tidur leyeh2 dirumah haha. Mana begitu pada pulang umroh, Mama dan Ade flu berat, eh Akang juga ikutan flu, dan ade sepupu juga batuk2.. Ajaibnya saya malah nggak, pdhl kemaren2 begitu aja yg flu pasti saya langsung ketularan. Subhanallah Allah Mahabaik.. tahu saya lagi butuh sehat buat ngurusin orang rumah dan juga ga bakal kuat kalo sakit flu dengan kandungan 8,5 bulan ini.. :') Jadi sekarang ga ada lagi bobo cantik abis shalat Subuh, langsung ngurusin suami dan mengantarnya ke gerbang saat berangkat (biasanya pas dia pergi lg bobo dan dibangunin semenit buat pamit cium tangan trus bobo lagi haha), trus angetin makanan (kebiasaan ajaran suami, makanan sisa diangetin pas Subuh2 supaya ga basi.. mertua selalu gitu, sampe sekarang dirumah Tasik kulkas ga pernah dipake sama sekali buat nyimpen makanan sisa), lanjut beres2 kamar dan kamar Mama, lanjut setrika, cuci baju, jemur, masak, dll.. Woww.. I'm even amazed at myself karena semangat banget ngerjainnya!

Of course, karena biasa ga pernah ngerjain apa2 trus jadi sibuk begini.. perut pasti protes. Begitu udah kenceng2 dan sakit ya istirahat dulu, minum yang banyak, berbaring sampai si Babybee gerak2 aktif lagi. Tapi seneng deh rasanya bisa melayani yah.. meskipun berat menjalaninya. Cuma kata Babycenter di email sekarang malah ga boleh terlalu capek karena butuh saving all energy for labour.. Hmm.. jadi Mbak.. cepatlah pulang! Sekalian saya butuh mesin cuci dan jemuran di bawah buat nyuci baju Babybee..bukan nyuci baju seisi rumah nih hehe.

Semoga nesting instinct ini bakalan nempel terus sama saya...jadi pas udah lahiran sifat slordeuh-nya ga dibawa lagi.. tetap rajin dan semangat ngerjain pekerjaan2 rumah tangga biar suami senang, rumah bersih, semua sehat dan bahagiaa.. amiinn... hihihi.

Friday, 1 July 2011

The Financial Manager on Gold-based Education Fund Planning

Another email for the Head of the Baktilugina Household from his financial manager which took her 3 hours to write XD :

A Note from Your Financial Manager Re: Gold-based Education Fund Planning
1 message


Wichitra Yasya <*******@gmail.com> Fri, Jul 1, 2011 at 10:12 AM

To: Tatas Baktilugina <*******@gmail.com>
Assalamu'alaikum wr wb

Akang tersayang,

Hari ini Eneng bersyukur soalnya rekening Akang pasti bertambah saldonya. Eh denger2 ada gaji ke13 yah. Alhamdulillah rejeki dede disaat memang lagi butuh buat dede. Eh eneng juga mikir tentang biaya pendidikan dede nanti. Kan pas dede masuk kuliah, pas banget Akangnya pensiun. Mulai dari sekarang, eneng pengen alokasikan dana buat pendidikan dede. kalo asuransi pendidikan kykna ga bakal ke-cover karena preminya gede, dapetnya segitu, plus dengan tingkat inflasi uang yang tinggi... wuihh.. ga worth it kayaknya. Mau ke reksadana dll.. masih ga berani soalny ga ngerti.. asa ribet kitu.

Jadi mau old-school jadul aja ky orang2 jaman dulu.. invest di emas aka LM. Untuk itu, pertama2 yg penting dihitung dulu berapa biaya pendidikan yang diperlukan 18 tahun lagi. Ini hasil ngubek2 Excel sepagian, biaya kuliah 18 th lagi pake formula FV, invest per bulan dihitung pake formula PMT:

Biaya kuliah saat ini s.d lulus = Rp100.000.000,00
Biaya kuliah Dede 18 tahun lagi = Rp.3.552.828.790.13
Investasi per bulan = Rp1.714.936,27

Jadi, kalo mau investasi duit, harus menyisihkan Rp. 1.7juta per bulannya biar 18 tahun lagi kekumpul Rp.3.5milyar buat sekolah Dede (banyaaak bgt yaaaa). Meskipun ga terlalu banyak, tp dgn single income saat ini (income eneng yg ga pasti ga dihitung), kykna susah menyisihkan segitu tiap bulan tanpa terkecuali. Apalagi kalo Dedenya punya adek, trus ada adeknya lagi, dst... Nanti hrs dihitung lagi buat tiap anak.

Nah, gimana kalo kita nabung buat sekolah Dede pake LM?


LM ini tingkat kenaikan per tahunnya kurang lebih sama dengan tingkat inflasi pendidikan yaitu 20%. Karena ga mampu buat beli langsung banyak, bisa belinya pake metode cicil emas (
cicilemas.com).. yg baru ada cicil emas 5 bulan, kita DP di bulan 1, trus tiap bulan bayar cicilan s.d 4x. Keuntungannya, bisa beli emas dgn harga di bulan 1, yg lebih murah dibanding kalo kita cicil duit sendiri, baru beli emasny d bulan 5, udh keburu naik harga emasnya. Sayangnya sih minimal itu 10gram belinya, atau 5 dinar. Tapi eneng prefer ke LM drpd dinar, krn dinar emasny 22k (campuran dgn perak), dan dinar cocokny untuk investasi jk pendek krn mudah diperjualbelikan soalny kecil jumlahnya. Jadi kalo kita bakalan beli emas dgn metode cicil emas ini slma 18 tahun, perhitungannya begini:

Beli emas 10 gram per 5 bulan selama 18 tahun, jadi total emas yg didapat = 18 tahun x 12/5 x 10 gram = 430 gram
Nilai 1 gram emas 18 tahun lagi, asumsi tingkat kenaikan 20%, dengan nilai saat in Rp.435.000,00 = Rp16.676.855,97
Nilai 430 gram emas 18 tahun lagi jadinya = Rp7.204.401.777,81


Jadi kalo kita beli emas 10 gram setiap 5 bulan sekali 18 tahun lagi emas kita bisa dijual senilai kira2 Rp.7milyar. Jika kita mau simpan emasnya di Safe Deposit Box bank, harga pertahunnya untuk yang ukuran sedang (muat sampe 10kg emas) sekitar Rp.1 juta, dengan nilai inflasi 20%, di tahun 18 biaya totalnya Rp26.623.333,28. Jadi nilai sebenernya ya 7 milyar tadi dikurangi 26 juta ini. Meskipun simpan di bank risky juga, karena klo terjadi apa2 dgn SDB-nya, penggantianny hanya 2x nilai sewa SDB, bukan nilai barang yg ada dlm SDB (soalny bank jg tdk tahu menahu isi SDB nasabah untuk privacy). Bisa juga dititip di pegadaian, tapi sistemnya gadai. kalo disini, setiap ada kerusakan pada emas yg dititip, digantinya 125% kalo ga salah.

Eh tapi tanggung, kalo misalnya setiap 5 bulan = 10 gram, berarti 1 tahun kurang lebih 24 gram yang dibeli setiap tahunnya. Sekalian aja setiap tahun diupayakan harus punya emas 25 gram, karena semakin besar gram-nya, harga beli per gramnya juga lebih rendah. Perhitungannya jadi begini:

Beli emas 25 gram per tahun selama 18 tahun, total emas yang didapat = 18 tahun x 25 gram = 450 gram
Nilai 1 gram emas 18 tahun lagi, asumsi tingkat kenaikan 20%, dengan nilai saat in Rp.435.000,00 = Rp16.676.855,97
Nilai 430 gram emas 18 tahun lagi jadinya = Rp7.504.585.185,22


Kalo mau pake cicil emas AGGIC yang diatas, mekanismenya begini:
1. Kita bayar DP ke AGGIC, yaitu 30% dari harga emas saat ini.
2. Emas dititipkan ke bank mitra, jadi setelah ada akad jual-beli, akan ada akad rahn (gadai). Bank akan memberikan uang hasil gadai ke pihak AGGIC,  jadi AGGIC-nya sudah dapat pembayaran lunas atas emas yang mereka jual dari DP kita + dari hasil gadai yg diberikan bank.
3. Kita tinggal melunasi uang gadai tersebut selama 4 bulan (4x bayar)
4. Setelah lunas, emas bisa diambil dari bank, atau kalo mau disimpan tinggal bayar biaya titip tambahan, atau digadaikan.
Lebih jelasnya, ada disini penjelasannya.

Selain di cicilemas.com, bisa juga sih sekarang kredit emas di bank, atau pegadaian juga bisa. Cuma mekanismenya eneng belum paham, jadi yg dijelasin yang ini dulu..karena udah tahu dari setahun yg lalu, tapi baru ngerti mekanismenya hari ini hehe. *lemotdotcom*


Eneng sih percaya menikah, trus punya anak, itu semuanya pasti bawa rejeki.. semuanya pasti dijamin Alloh, udah ada rejekinya masing2.. jadi eneng ngga ngoyo2 banget harus strict bgt ttg pengeluaran, hrs berdarah2 spy bs enjoy hidup... pokony yg penting cukup dan ga expect macem2 kan ya. (maksudny biar eneng  ga stress mikirin duit tiap hari...) Tapi mudah2an dgn perencanaan yg baik, meskipun ga ribet dan ga perhitungan sana-sini... bisa lebih aman dan tenang, disamping faktor lain penenang hati yaitu kasih sebagian rejeki ke yg berhak (ortu, anak yatim dll) dan selalu tingkatkan ibadah untuk bs dpt yg terbaik dari Alloh subhanahu wa ta'ala :) Amiin...


Wassalamu'alaikum wr wb.


With Love,

Eneng
Financial Manager

PS: Tolong dikoreksi yah Akang Master of Commerce in Applied Finance kalo ada hitung2an yang salah.. :)

Thursday, 9 June 2011

Kamus Basa Sunda

Highlight of my day, besides finishing the first part of the freelance translation job is.. finding THIS: Kamus Bahasa Sunda.

Ihh.. senang sekali.. bentuknya real-time search, dan database-nya cukup lengkap.. dari kosakata Sunda halus sampai yang kasar. Hehe. Kenapa sih girang banget nemu ini? Soalnya.. saya bersuamikan orang Sunda tulen, meskipun saya setengah Sunda* dengan kedua orangtua lahir dan besar di Bandung, saya sendiri lahir dan besar di Jakarta dan Brisbane.. jadi ya fasihnya Bahasa Indonesia sama English dong (gayaaa..). Nah, begitu lagi PDKT sama calon suami nih langsung deh cari2 kamus Sunda dulu hahaa..

Awalnya sih tidak menjadi masalah saya ga fasih Bahasa Sunda, meskipun suami bingung lha ayah dan ibunya fasih Bahasa Sunda, trus sempet kuliah di Bandung pula.. kok gagap banget Sunda-nya. Yaa.. dikit2 bisa dan ngerti, tapi begitu saya ngomong Sunda langsung di-stop sama Akang, katanya kasar.. whuahahaa.. ya gimana taunya yang kasar sama nggak.. wong gaul sama orang Sunda-nya pas kuliah di Bandung, ya diajarinnya bahasa pergaulan setempat dong. Jadi aja ga berani bicara bahasa Sunda sama sekali. Which is a little bit of a problem pas mudik ke mertua di Tasik. Disana tuh masih kental kedaerahannya, semuanya ngomong Basa Sunda. Kalo ngomong Bahasa Indonesia, pada kaku gitu. Jadi kadang2 nggak nyambung nih saya kalo ngomong sama mertua.. apalagi kalo pas ke Tasik bener2 lost in translation deh.. soalnya bicaranya tuh pake Bahasa Sunda yang haluuuuuss banget, yang enak gitu didengarnya, tapi saya nggak familiar karena biasanya denger Bahasa Sunda pergaulan.

Jadi intinya ya, semoga dengan ditemukannya kamus ini oleh saya, Bahasa Sunda saya makin lancar.. apalagi ada bibi yang orang Jakarta nikah sama adiknya mertua, katanya lama2 jadi bisa ngomong Sunda kok. Babybee aja nanti udah diniatin sama Papanya buat diajarin Bahasa Sunda lemes meskipun kita ga tinggal di Bumi Priangan, biar dia apresiasi latar belakangnya. Baiklahh.. mari kita belajar Basa Sunda lemes.. hayu urang diajar Basa Sunda anu lemes...!!!

*Setengahnya lagi Ambon.. saya blasteran ras Melayu Mongoloid dan Melanessuide... ga penting yah footnote ini!

Friday, 27 May 2011

The Financial Manager talks about Zakat

Today's email to dear husband:

A Note from Your Financial Manager Re: Zakat
1 message


Wichitra Yasya <*******@gmail.com> Fri, May 27, 2011 at 1:08 PM
To: Tatas Baktilugina <*******@gmail.com>
Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Akang yang baik,

Berhubung Eneng adalah financial manager Akang, Eneng bertanggungjawab mengelola penghasilan Akang agar bisa selalu barakah bagi kita sekeluarga yang menikmatinya, amin. Tentunya zakat menjadi perhatian Eneng, karena ini salah satu rukun Islam yang wajib. Setelah membaca dari Internet, termasuk dari buku Dr Yusuf Qardhawi, Eneng cenderung menyetujui adanya zakat profesi. Yusuf Qardhawi pun membenarkannya di bukunya Hukum-hukum Zakat. Mengenai besarnya tentunya harus sesuai nisabnya. Nisab yang dipakai yaitu 85 gram emas dalam haul 1 tahun. Dalam menghitung zakat, bisa kita perhitungkan hutang2 kita, saat ini yang ada hutang di Bank BRI sebesar Rp. x.xxx.xxx/bulan (mohon koreksi klo salah :). Berdasarkan penghasilan (yang dihitung yg Mei 2011) hitung2an kira2 seperti ini:

Penghasilan Gaji + TKPKN = Rp x.xxx.xxx + Rp x.xxx.xxx =Rp x.xxx.xxx
Pemasukan 1 tahun Rp x.xxx.xxx x 12 = Rp xx.xxx.xxx
Hutang Kredit BRI Rp x.xxx.xxx x 12 = Rp xx.xxx.xxx

Total Bersih Pendapatan =  Rp xx.xxx.xxx -Rp xx.xxx.xxx = Rp xx.xxx.xxx

Nishab 85 gram emas (1 gram @ 400.000) = Rp 34.000.000

Berdasarkan perhitungan ini, jika penghasilan 1 tahun kita hitung sbg total bersih pendapatan, maka Akang tidak diwajibkan berzakat. Namun sebenarnya perhitungan zakat penghasilan ada 2, berdasarkan Dr Yusuf Qardhawi, yaitu:
1. Jika penghasilan dinilai pas-pasan, maka zakat dapat dihitung dari pendapatan bersih yaitu sudah dikurangi hutang, sehingga tidak begitu memberatkan. Berdasarkan ini, Akang tidak wajib berzakat karena belum mencapai nisabnya.
2. Jika dinilai penghasilan besar, maka zakat dihitung dari pendapatan kotor 1 tahun, jadi tidak dipotong biaya hidup atau hutang2. Berdasarkan ini, maka Akang wajib berzakat karena pendapatan kotor sudah mencapai nisabnya. Jika mengikuti yang ini, maka jumlah yang harus dizakatkan adalah 2,5% dari pendapatan kotor yaitu Rp. xx.xxx.xxx x 2,5% = Rp. 1.xxx.xxx. Jumlah ini untuk 1 tahun. Jadi bila akang memutuskan berzakat untuk periode haul bulan Mei 2011 - Mei 2012, maka jika zakat dibayarkan sekarang, penghasilan selanjutnya sampai Mei 2012 tidak perlu dizakatkan lagi, dan zakat wajib dikeluarkan lagi bulan Mei 2013. Namun bila dihitungnya untuk Mei 2010 - Mei 2011, maka Akang wajib bayar zakat selanjutnya pada Mei 2013. Kalau mau dibayar per bulan, tinggal dibagi 12 yaitu bayar sekitar Rp. 1xx.xxx/bulan.

Dr Yusuf Qardhawi menganjurkan yang kedua untuk kehati-hatian, namun jika dinilai memberatkan untuk membayarnya, ambil jalan tengah dan ikut yang pertama.

Bagaimana kalo nanti Eneng bekerja, apakah zakat penghasilan dihitung dari gabungan 2 pendapatan kita atau sendiri-sendiri? Menurut Ust. Sarwat Lc, zakat wajib dikeluarkan oleh seseorang yang memiliki harta atau penghasilan melebihi nisabnya, jadi lebih bersifat perorangan. Kalau penghasilan Eneng sudah memenuhi nisab, maka Eneng wajib berzakat untuk diri Eneng sendiri. Ini juga berlaku kalau misalnya Eneng memiliki emas batangan or perhiasan yg lebih dari 85 gram yg sudah dimiliki 1 tahun, Eneng sendiri yang wajib menzakatkan dari emas itu atas nama Eneng. Jadi intinya, zakat penghasilan itu sendiri-sendiri ya, bukan digabung2 meskipun suami-istri adalah satu kesatuan.

Kesimpulannya? Eneng tidak masalah kalo Akang memutuskan untuk tidak berzakat berdasarkan perhitungan diatas yang menunjukkan penghasilan belum mencapai nisab. Eneng juga mendukung penuh kalo Akang mau mengeluarkan 100ribuan setiap bulannya atau bayar 1jutaan sekarang untuk zakat setahun lampau, atau tahun depan untuk zakat sekarang sampe setahun mendatang... karena toh yang kita keluarkan itu akan kembali lagi pada akhirnya, sudah dijamin Allah di Al Qur'anul Kariem :) Tapi kalaupun tidak, Eneng mewajibkan sebagian dari yang Akang terima disedekahkan.. karena Eneng yakin pintu rejeki datang dari situ. Tiada yang merugi karena banyak memberi, Allah sudah mencukupkan rejeki bagi tiap hamba2Nya, InsyaAllah.. setujuuu?? ^_^

With Love,
Eneng
Financial Manager
RT SaMaRaBa Amin

http://www.ustsarwat.com/search.php?id=1160450141
http://www.eramuslim.com/konsultasi/zakat/konsultasi-zakat-penghasilan-dlm-islam.htm
http://luk.staff.ugm.ac.id/kmi/islam/Qardhawi/Zakat/index.html

Monday, 21 February 2011

#Misi21 Day 10: Family Wedding in Bandung

Hari ini kami pergi ke Bandung menghadiri pernikahan adik sepupu Akang. Tadinya setelah tahu hamil, saya nggak jadi pergi, tapi pas check up di dokter, sang dokter bilang lakukan aktivitas seperti biasa.. jadi Akang langsung dapet lampu ijo buat ngajak Eneng ke Bandung. Ya udah, pagi2 habis Subuh udah mandi, naik travel jam 6.45 menuju Bandung.

Sampai pool travel langsung naik taksi ke gedung lokasi akad dan resepsi. Pas sampe, akad baru selesai. Jadi sempat lihat sungkeman, saweran, huap lingkung.. trus mati gaya nunggu resepsi. Kenalan2 sama banyak sodara dari pihak akang. Sekarang udah ga gigit jari kalo ditanya "udah isi belom?" dijawab dengan senyum manis "Alhamdulillah, baru 5 minggu." :) Beres dah..

Hari semakin siang, pengantin baru datang, saya udah lemes pengen makan tapi kan harus nunggu prosesi kirab selesai, terus salaman sama pengantin. Makan udah, lemes udah mendingan tapi masih pusing.. emang gitu sih kalo lihat orang banyak seliweran ditambah dentuman keras suara speaker dari panggung musik, ga pernah bisa kuat. Akhirnya setelah dapet jatah foto, kita pamitan. Ternyata keluarga Akang (bibi, paman, dan papah mertua) juga ikutan pulang. Dapet tebengan dari bibi sampe Jl. A. Yani buat nyari taksi.. ternyata susaaah ya nyari taksi di Bandung. Udah panas, keringetan karena itu di siang bolong.. akhirnya dapet juga taksi, langsung balik lagi ke travel di Dipati Ukur.

Sampe Jakarta jam 4an, malemnya tepar sampe besok paginya cuma sempat bangun buat shalat Subuh, sarapan, trus tidur lagi sampe jam setengah 2. Hehe. Beruntungnya bumil jobless.. Lemes dan males akibat perubahan hormon bisa diikutin. :p

Monday, 14 February 2011

#Misi21 Day 3: family day out

#Misi21 hari ketiga saya adalah keluar sama suami dan Mama. Jarang banget kita jalan bareng keluar karena suami dan Mama sama2 sibuk. Sayanya sih nggak yah, kan pengangguran hehe. Udah gitu saya yang nyetir, karena supir lagi mudik. Meskipun hari itu lagi mabok paginya, dibela2in nemenin Mama, karena mikirnya kapan lagi bisa jalan bareng dan menyenangkan orang tua disupirin perginya.

Rutenya cuma ke Tebet, Radio Dalam, Pondok Indah, trus pulang ke Pasar Minggu. Alhamdulillah aman, kenyang, menyenangkan.. Meskipun besoknya kecapean, tapi worth it lah. My favourite part tentunya jalan dan makan bareng di mall, something I haven't done in a long time. Had a really good time that day.. tinggal nunggu si Ade pulang trus kita jalan bareng lagi deh :)