Showing posts with label worldview. Show all posts
Showing posts with label worldview. Show all posts

Friday, 11 February 2011

Alanda,Twitter, dan Saya


Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman di Twitter men-tweet tentang “terusiknya rasa keadilan” yang merujuk pada cerita Alanda Kariza, mahasiswi 19 tahun yang curhat di blog-nya tentang ibunya yang divonis 10 tahun penjara dan denda 10 milyar rupiah terkait kasus bombastis Bank Century. Alanda, yang aktif di Twitter, men-tweet tentang tulisan di blog-nya, yang langsung di-retweet (RT) para pengguna Twitter Indonesia. Dalam waktu hanya beberapa hari tersebut, kisahnya sudah merambah komunitas Twitter yang memberi dukungan kepada Alanda, beberapa menggunakan hashtag #helpAlanda. Pesohor Twitter Indonesia seperti Goenawan Moehamad juga turut me-retweet, juga para tokoh lainnya seperti Todung Mulya Lubis. Berita ini pun merambah dari jurnalisme Twitter ke jurnalisme jalur “resmi”, media cetak maupun elektronik berlomba memberitakan kasus ibu Alanda ini. Bahkan, hari ini (Jum’at, 11/02/2011), kisah Alanda menghiasi halaman depan harian nasional terkemuka Kompas.

Saya tidak ingin bercerita lebih jauh tentang kisah Alanda, karena pasti para netizen sudah pada tahu, kalau belum, Google pasti akan memberikan jawaban lebih baik dan rinci. Saya hanya ingin berbagi bagaimana penyikapan kita (ehm, lebih tepatnya saya kali ya..) tentang kasus ini.

Seperti yang dilihat, reaksi publik, setidaknya yang terekam di dunia maya ini, mendukung Alanda, yang menyatakan betapa tidak adilnya hukuman yang dijatuhkan kepada ibunya, jika dibandingkan dengan bosnya yang dihukum lebih ringan, atau jika dibandingkan dengan Gayus Tambunan. Tetapi ada juga yang melihat sikap Alanda dan dukungan terhadapnya berlebihan. Karena koruptor ya tetap koruptor. Dan bagaimanapun putusan pengadilan tidak sembarangan, pasti melalui proses yang meskipun sarat “keanehan”, tidak mungkin sebejat itu.

Saya memang tidak menyangkal kalau hukum di Indonesia carut-marut. Namun, saya berpendapat bahwa dukungan terhadap Alanda, yang ditunjukkan dengan satu RT di Twitter dan beberapa kalimat dengan 140 karakter lebih terhadap emosional dan latah. Call me insensitive, then. Tapi saya mengerti bagaimana emosi terpancing membaca berita 140 karakter yang kontroversial. Dengan membaca 140 karakter, hati bisa bergejolak dan penuh prasangka, dan balasan kita yang 140 karakter itu bisa dinilai orang lain dan membuat hati mereka sama bergejolaknya.

Saya bisa sedikit tidak terlalu emosional, karena saya mengerti kasus ini dan bisa berempati dengan rasa yang lebih tenang. Saya bukan ahli hukum, dan tidak ada sangkut-pautnya dengan Bank Century. Tapi saya mengalami sendiri yang disebut “keatidakadilan hukum di Indonesia” yang melibatkan anggota keluarga. Seperti Alanda, saya juga merasa anggota keluarga tersebut tidak bersalah. Betapa hidup kami terusik dengan apa yang terjadi sudah bertahun-tahun belakangan ini. Ya, saya mengalaminya bertahun-tahun, dan belum juga reda. Tiap hari kami berjuang, tiap hari kami hanya bisa berdoa dan tetap melakukan yang terbaik bagi diri kami, keluarga kami, dan juga bangsa yang kami cintai. Sandungan-sandungan itu tetap ada. Namun, saat ini saya sudah mulai ikhlas. Hanya keyakinan kami bahwa kebaikan akan menang pada akhirnya yang membuat kami bisa terus bertahan. Keyakinan itulah yang membuat kami lebih kuat, lebih pasrah, dan lebih bijak.

Apapun yang terjadi, itu yang terbaik. Pada akhirnya, kita akan menjadi orang yang lebih baik. Cobaan menjadikan kita kuat. Ujian di dunia yang bisa kita atasi menjamin kesempatan kita mendapat tempat yang baik di akhirat. Itu yang bisa saya katakan untuk Alanda. Allah tidak akan menguji hambaNya jika dia tidak mampu melewatinya. Dan keberhasilan kita melewati ujianNya menjadikan kita lebih mulia dihadapanNya. Jangan pernah berhenti percaya, dan jangan sampai mengutuk manusia lainnya. Percaya Allah akan membalas dia yang bersalah, percaya Allah akan menggugurkan dosa-dosa kita dan menambahkan dosa-dosa itu ke mereka yang zhalim. Berdoalah terus, berdoalah mereka diberi hidayah oleh Allah. Berdoalah seluruh negeri ini akan dihujani oleh hidayahNya, sehingga tercipta negeri kita yang sejahtera dan madani. Ingat, saat semua terenggut dari kita, hanya iman yang tidak bisa secara paksa direnggut manusia jika kita haqqul yaqin. Itulah kekuatan kita. Bertahanlah, dan teruslah percaya pada kebaikan.

Dan untuk para  netizen dan pengguna Twitter, saya menyarankan untuk menggunakannya dengan bijak. Sebelum berpendapat, pikirkanlah konsekuensinya. Hindari su'uzon, asal RT, dan tweet2 penuh emosi. Jangan terlalu cepat menilai orang dari 140 karakter. Well, overall, don't judge people. We don't have th e right to, itu bagiannya Allah yang menilai manusia. See things from all sides, stay objective and most of all positive. Hanya kebaikan yang bisa menghasilkan kebaikan. Being good never does harm, even though sometimes it doesn't seem that way.

Saya jadi sangat ingin menutup akun Twitter saya kembali.. saya takut akan jadi (mungkin sudah jadi) berkacamata kuda dengan menggunakan Twitter tiap hari.

Allahumma arinil haqqa haqqa war zuqnittibaa‘ah waarinil baathila baathila war zuqnittinaabah. Alhamdulillaahi rabbil ‘aalamin.
Ya Allah, perlihatkan kepadaku, kebenaran itu sebagai suatu hal yang benar, dan anugerahkan kepadaku kekuatan untuk mengikuti kebenaran itu. Dan perlihatkan kepadaku kesalahan itu sebagai suatu hal yang salah, dan anugerahkan kepadaku kekuatan untuk menjauhi kesalahan itu. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.
Amin.

Sunday, 31 October 2010

Wichi's No-Facebook Tweeting and Blogging Philosophy




I don't have Facebook. I did delete my twitter and blog but have since created new accounts for both. New accounts, new philosophy on tweeting and blogging.

I like Twitter and blog because they provide a healthy platform of expression. They promote literacy and also an effective stress-reliever. Oh and the art of it, too! Trying to express your consciousness in just 140 characters is an art I'm enjoying more and more. I try not to use Twitlonger or similar services as they are an
insult to Twitter philosophy for me :) Furthermore,  for me the information shared on Twitter and blog are more useful than the information on Facebook. As for networking, well, if my Facebook friends are friends I know in real life, I'd prefer the traditional way of networking. I feel more connected meeting someone in person, on the phone, being sent text messages or even emails, rather than a few words on my comments page on Facebook. Some of the comments are even not appropriate and doesn't really show you care. Right?

And what, pray tell, is my new philosophy when writing a tweet or a blog post?

  1. First and foremost, the goal should be manfaat vs mudharat. More manfaat, less mudharat
  2. As pointless as a tweet may sound like, it should serve someone (more likely me) good rather than become something bad.
  3. Do not shame anyone, and most importantly do not shame yourself. I represent a whole family now, I must uphold my honour and that of my husband's. This is my obligation as a (Muslim) wife.
  4. As much as possible, your writing be useful for the reader Get just enough of it.. Too much of anything is never good for you :)

Back to Facebook, I did delete it because I've experienced some unpleasant things with it. Other people may think that's pretty ordinary for a Facebook user but to me it's uncomfortable. And unsafe. And generally I found more mudharat than manfaat on Facebook. Sure, there are always risks. But I'm not willing to take them anymore, it just proves to be not worth it at all now.

So I'm just gonna enjoy tweeting and blogging away, and don't look at me funny when you've found out I'm not on Facebook..