Showing posts with label writing. Show all posts
Showing posts with label writing. Show all posts

Sunday, 4 December 2011

Rory's Story: The Circus

Once upon a time, that's how we begin this story
Of a young boy, his name is Rory
He lived with his family on the edge of the hills
Over the meadow full of blooming daffodils
One day Rory learnt there's a circus in town
He wanted to see it, especially the clowns
He asked his parents if he could go
But it was too far away, so they said "No!"
Rory was sad, but he thought of a way
He said to his parents he's out to play
He said he's playing with his best friend
Who lived nearby, just round the bend
He did go see his best friend Ben
But not to play in his house then
Instead they quietly got in the back
Of Ben's dad truck which were full of sacks
Ben's dad was going to town to sell corn
And off he went, honking his horn
Not knowing that there were two boys at the back
Cramped between his corn sacks
They finally stopped at the marketplace
The boys got off and ran like in a race
They entered the circus in its big red top
And saw the clowns, the lions and the bunny hop
Contented and happy they walked back
But the truck in the market was a sight they lack
Because Ben's had gone home before
When his corn was sold out, he left his store
They were confused, they let out a moan
For their houses were far, they couldn't go home alone
They sat slouched and crying, not knowing what to do
They were too far from home, and it was getting dark too
But they should be grateful as they were in luck
Driving back to the market was Ben's dad in his truck
He was back to get something he left in his store
He was surprised to see Ben and Rory by the door
Ben explained what they'd done to his dad
And naturally his dad got mad
Rory's dad became angry too
When he found out what his son was up to
"What you did was dangerous and bad,"
"You could be hurt!" said Rory's dad
So Rory was punished, it was his fate
To stay inside for two weeks straight
Rory pondered, alone in his room
He realised he was wrong amidst his gloom
He promised himself never to lie again
For it only caused misery and pain
Now it's clear, yes, he could see
That honesty is the best policy

Monday, 17 October 2011

Mrs Dunstan, my favourite teacher

Another person I admire most is my Grade 7 teacher, Mrs Dunstan. Dia mengajar di Ironside State School, Brisbane, Australia, tempat saya bersekolah saat ikut orangtua yang sedang studi disana. Di Brisbane, lebih tepatnya di negara bagian Queensland, sekolah SD atau primary school itu sampai Grade 7, baru dilanjutkan ke high school (SMP dan SMA jadi satu).

Di penghujung Grade 6, saya mengetahui kalau saya ditempatkan di kelas 7D dengan guru kelas Mrs Dunstan. Saya juga mengetahui kalau teman-teman saya tidak ada yang sekelas dengan saya, kecuali satu, Siree, dari Thailand. Saya langsung panik karena Mrs Dunstan terkenal galak, ditambah saya tidak kenal siapapun di kelas baru nanti (kecuali Siree). Saya sampai nangis dan bertemu wakil kepala sekolah karena ingin pindah kelas. Tapi, entah bagaimana, akhirnya saya tetap ditempatkan di kelasnya Mrs Dunstan.

Setelah dijalani, ternyata, saya sangat bersyukur bisa ditempatkan di kelasnya! Mrs Dunstan memang galak dan disiplin, wuih, dari tampangnya sudah kelihatan deh juteknya! Tapi, dia sangat passionate dalam mengajar, dan melakukannya dengan metode yang tidak monoton. Dia benar-benar membuat anak didiknya berkembang. Meskipun ketar-ketir karena kegalakannya, tapi saya diam-diam benar-benar memfavoritkannya karena membuat saya jadi senang belajar dan memanfaatkan segala potensi yang saya miliki. Buktinya, nilai-nilai saya lumayan bagus.

Pelajaran dan pesan yang disampaikan Mrs Dunstan masih saya ingat sampai sekarang. Beliau berhasil mengangkat rasa percaya diri saya saat harus presentasi di depan kelas. Rasa minder saya sebagai "pendatang", bukan native speaker English, berkulit coklat dan sebagainya dibantu dikikis olehnya. Saya rasa banyak kemampuan saya yang tadinya terpendam jadi keluar berkat dibimbing olehnya. Terutama kemampuan menulis saya. Sampai ketika setahun kemudian saya masuk high school, saya menang Subject Prize untuk mata pelajaran English! Itu artinya, dari seluruh murid Grade 8, sayalah yang memiliki nilai English paling tinggi... ini prestasi yang luar biasa menurut saya, jika diingat bahwa dua tahun sebelumnya saya baru datang dari Indonesia dengan kemampuan Bahasa Inggris sangat minimal.. eh tiba-tiba bisa mengalahkan semua murid yg bule asli :) I think, I owe that to her.

Mrs Dunstan, yang mengembangkan kemampuan menulis saya, yang memperkenalkan saya kepada JRR Tolkien dan dunia sastra klasik yang menakjubkan, adalah sosok yang pantas saya kagumi. :)

Monday, 10 October 2011

Kaulah Malaikatku

*Re-post karena ga sengaja ke-delete (thank God for Google Cache)*

"Aku akan terus menunggumu, sampai kapanpun."

Kata-kata itu terngiang di kepala Arka. Ia memandang nisan dihadapannya. Masih berupa kayu yang diukir dengan nama seseorang yang sangat dikenalnya. Cat-nya pun baru mengering. "Kau bilang akan menungguku, tapi mengapa kau meninggalkanku?" gumamnya pelan.

Pelupuk mata Arka memanas, airmata mulai memburamkan pandangannya. Ia memejamkan kedua matanya dan bulir-bulir airmata pun berjatuhan mengalir di wajahnya. Saat menutup mata, ia melihat sosok seorang gadis yang tersenyum kepadanya.

Senyuman itulah yang pertama kali dilihatnya saat pertemuan perdana mereka. Dan senyum itulah yang menarik hatinya untuk kemudian mengenal lebih jauh gadis itu. Namun, setelah menjalani hubungan yang tidak terlalu lama, Arka dilanda kebimbangan, keraguan untuk lebih lanjut bersama gadis itu. Ia minta rehat sejenak, sementara untuk memantapkan hatinya.

Dan gadis itu menyanggupi permintaan Arka. Meski dengan berat hati, karena sang gadis yqkin Arka-lah pria yang akan menemaninya selama hidupnya. Oleh karena itu, ia rela menyanggupi permintaan Arka walaupun sakit hatinya harus berpisah dengannya.

Semenjak itu, Arka semakin menjauhi sang gadis, bahkan mendekati gadis lain. Tapi sang gadis tetap setia menunggunya, yakin bahwa suatu saat Arka akan kembali padanya. "Memang tidak mudah berpegang pada keyakinan itu," gadis itu pernah berkirim surel padanya, mengungkapkam perasaannya. "Terkadang aku merasa lelah dan ingin berhenti. Tapi sepertinya aku tidak ditakdirkan untuk mengambil jalan itu."

Arka meringis. Ia membayangkan hari-hari dimana gadis itu pasti tersiksa, senyum manisnya sirna hanya karenanya. Karena keegoisan dirinya yang tidak pernah memikirkan perasaan gadis itu dan besarnya kesetiaan sang gadis kepadanya.

Saat sang gadis terbaring di rumah sakit pun, ia masih berharap pada Arka. Tapi Arka masih pengecut, belum berani ia berdamai dengan perasaannya sendiri dan membuka hati sepenuhnya untuk gadis itu. Ah, jauh sekali bila dibandingkan dengan sang gadis! Dalam sakitnya, tak sedikitpun ia mengeluh. Keyakinan akan takdir dan kebesaran Tuhan membuat sang gadis tabah menghadapi hari-hari terakhirnya di rumah sakit. Ia bahkan selalu tersenyum saat Arka datang menjenguknya.

"Tak kusangka kau yang akan pergi meninggalkanku," bisik Arka dengan suara bergetar menahan tangis. "Dan tak kusangka, ternyata aku begitu peduli padamu. Ya Tuhan.. Maafkan aku meninggalkanmu, mengabaikanmu.. Aku mencintaimu. Semoga kamu bahagia di alam sana bersama para malaikat. Sayang, kaulah malaikatku."

228 per 100000

*Re-post karena ga sengaja ke-delete (thank God for Google Cache)*


228 per 100000..

"Ayo Ibu! Jangan menyerah.."

228 per 100000. 228 kematian setiap 100000 yang hidup.

"Sayang, bertahan sayang.. Demi anak kita, ia butuh ibunya sayang.. Aku butuh kamu sayang!" Sayup-sayup suara Mas Harsa.

Anak kita.. Mas Harsa.. Anak kita..

Sekelibat bayangannya. Bayi merah, agak biru, rambut tebal dan basah, menangis kencang. Namun suara tangis semakin pelan dan mereda. Sang bayi mulai terlihat lebih cerah kulitnya.. Putih, mulus.. Badannya pun bertambah montok.. Ia tumbuh dan terus tumbuh. Dari kecil, hingga sekolah, hingga kuliah, diwisuda.. Anakku!

Itu takdirku. Ya, melihatnya tumbuh dan berkembang. Membimbingnya, mencintainya.. Menjaga titipan Tuhan bersama Mas Harsa.

228 dari 100000, sebagian besar disebabkan oleh pendarahan, juga komplikasi yang disebut eklampsia, serta infeksi.

Tidak! Harus kuraih takdirku! Aku tidak mau jadi sekedar statistik di koran, buku dan seminar! Aku mau jadi ibu untuk anakku dan istri bagi suamiku! Aku harus berjuang!

"Dok, denyut jantungnya ada lagi!"

Dan aku kembali berada di kamar bersalin. Wajah Mas Harsa yang pertama kali terlihat. Ia berkeringat dan berurai air mata. Diciumnya seluruh wajahku.

Tadi kamu pergi sayang.. Kamu pergi! Tapi kamu kembali! Aku tahu kamu pasti kembali!"

Kemudian aku merasa hangat di dadaku. Ada sosok manusia mungil yang sekarang kudekap. Matanya masih tertutup namun mulutnya menganga dan mengecap-ngecap. Ia menggeliat dan kuarahkan wajahnya ke sumber pangan terbaik untuknya.

Tuhan, Kau memberinya hidup melalui diriku. Kau membuatku bisa melihat dirinya tumbuh, tapi masih memberiku kesempatan untuk menjalaninya. Terima kasih, Tuhan!

228 per 100000, Angka Kematian Ibu di Indonesia. Dan aku bukan salah satunya.

Friday, 7 October 2011

Happily Ever After

I used to dream of a prince in shining armour, whisking me off on his majestic white horse and taking me to his castle. He would sweep me off my feet, make me his princess and we'll live happily ever after. Blame Disney movies for that, but yes, I'm in my 20s and still wqtch classic Disney movies, imagining I was Snow White or Sleeping Beauty.

When the man finally came, he's far from a prince. He's not exceptionally handsome, surely doesn't own a grand palace or even a horse. Shining armour? I've only ever seen him in plain shirts and jeans. But nevertheless, he did sweep me off my feet.

He might not spoil and treat me like a princess, but he treated me right. His down-to-earth, realistic attitude kept me on the ground when I've flown too high. Though we seem to have nothing in common, that became our greatrst strength. In our differences, we complement each other, becoming balanced, like Yin and Yang.

So what does it matter that I don't get my prince and his castle in the end? What matters is, we live happily ever after.

Wednesday, 5 October 2011

Recollections of a Rainforest

I was walking in a rainforest. I shivered in the coolness.

The birds were chirping here and there, giving life to the rainforest.

I tripped over the root of a tree. I fell down on my hands and knees. The soil was damp and moist. I got up and slowly walked on.

A lizard was in front of me, staring at me with glowing eyes. As I moved, it ran away.

Faintly, I heard the sounds of a waterfall. I walked on to see a river flowing into a waterfall. The river was clear and clean. There were moss-covered rocks everywhere. I touched the water gently. It was cool and fresh.

Slowly I crossed the river, my feet touching the gentle yet slippery rocks at the bottom of the river. As I went, the menacing sound of the waterfall became fainter and fainter and soon it was gone.

I breathed the clean, fresh air that was all around me. The crickets chirped madly.

As time goes by, the rainforest became dimmer and dimmer. Less sunlight was coming in.

I seem to be walking forever into nowhere... yet I am loving it.

Author's note: This is an old old piece, probably written 10-12 years ago, but it's one of my favourite so I'd like to share it ;)

Saturday, 1 October 2011

Kala Malam

Gadis membuka mata, terbangun dari lelap tidurnya. Kamarnya masih
gelap, hanya secercah dua cercah cahaya dari bulan yang bersinar yang
berhasil tembus melalui tirai tertutupnya. Ia membiarkan matanya
menyesuaikan diri dengan kegelapan itu, kemudian ia menarik napas
panjang.

"Dia lagi," bisiknya pelan. Ia tertegun memandang langit-langit
kamarnya, berusaha mengingat mimpinya barusan sebelum hilang dari
ingatannya. Memang ingatannya akan mimpi itu mulai memudar, tapi ia
jelas ingat siapa yang ada dalam mimpi itu. Sesosok lelaki yang belum
lama dikenalnya. Setelah kenal pun, tidak menjadi begitu akrab. Namun
anehnya, sejak awal bertemu ia merasakan sesuatu terhadapnya. Seperti
setrum listrik sesaat, meskipun setelahnya tidak terlalu
dipikirkannya. Dan sejak hari itu, lelaki itulah yang hadir dalam
mimpinya tiap malam.

Gelisah dan gundah. Itu yang dirasakannya. Terganggu bahkan, pikirnya.
Bagaimana tidak? Ia sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan skripsinya.
Orangtuanya sangat berharap ia bisa segera lulus. Ia pun sibuk dengan
kuliah demi mengejar nilai yang baik. Belum lagi ia baru saja putus
cinta, dan menjalin hubungan semacam itu lagi menjadi bukan prioritas
baginya.

"Tapi ini! Lelaki ini! Siapa dia?? Mengapa ia selalu memenuhi
pikiranku, padahal aku tidak mengenalnya? Aku bahkan tak tahu kalau
aku suka atau tertarik padanya!" jerit Gadis dalam hati. Ia tahu, hati
kecilnya sebenarnya masih takut dan trauma akan kandasnya hubungannya
yang terakhir, dan ia hanya ingon agar hatinya istirahat sejenak untuk
pulih dari rasa sakit itu. "Tapi ini malah seperti disuruh naik
rollercoaster," gumamnya, membayangkan dirinya yang selalu salah
tingkah saat berada dekat lelaki itu, dan tiba-tiba seperti ABG yang
tergirang-girang bila memikirkannya.

"Tuhan.. Harus bagaimana lagi? Hamba hanya ingin ketenangan.." Gadis
menarik napas dan menghembuskannya perlahan. Baginya, hanya ada satu
cara menghilangkan gundah gulana hatinya malam itu. Ia menyibak
selimutnya dan bangun dari kasurnya kemudian berjalan menuju kamar
mandi. Badannya ia basuh dengan air wudhu, dan ia kembali ke kamar,
bersiap-siap untuk mengadu pada Pencipta-nya.

Rakaat demi rakaat shalat malam dijalaninya. Istikharah, shalat
memohon petunjuk kepada Sang Maha Mengetahui, Sang Maha Pembolak-balik
Hati. Dengan gambaran sosok lelaki dalam pikirannya, ia mulai
melafalkan seuntai doa seusai shalatnya, "Ya Allah, jika ia adalah
untukku, maka dekatkanlah. Jika ia bukan untukku, jauhkanlah,
ikhlaskanlah, dan berikanlah aku yang terbaik..."

Dan ritual itu yang dijalaninya setiap malam, tanpa terlewati. Kadang
ia sampai berlinang airmata mengerjakannya, kadang sampai sesak,
kadang bahkan ia seperti setengah sadar karena kantuk.

Namun malam ini Gadis bangun dalam keadaan segar. Diambilnya air wudhu
dan mulailah ia shalat. Setelahnya, tidak lupa doa itu ia ucapkan
setulus hati. Khusus malam ini, ia kembali berdiri dan menegakkan
shalat, kali ini shalat Hajat, untuk memohon kelancaran dan keridhoan
Allah dalam suatu hajat yang akan dijalani.

Gadis tidak kembali tidur setelah shalatnya malam itu. Ya, ia berhajat
hari itu. Dan pagi-pagi sekali ia harus mulai bersiap-siap.

Beberapa jam kemudian, Gadis mendapati dirinya duduk bersimpuh didalam
mesjid. Ayahnya juga bersimpuh dihadapannya, persis menghadap sosok
lelaki yang duduk di samping Gadis. Lelaki itu, yang menghiasi
mimpinya sejak pertama bertemu dengannya, dengan mantap mengucapkan
kata-kata yang mengubah hidup mereka berdua: "Saya terima nikahnya
Gadis binti Ayahanda dengan maskawin tersebut tunai!"

Kelegaan seketika merayap ke seluruh tubuh Gadis. Lelaki yang masuk
dalam mimpinya sekian lama, ternyata masuk dalam hidupnya setelahnya,
menemaninya dalam tiap langkahnya, dan mulai saat ini akan terus
menjadi pendampingnya hingga akhir hayatnya. Tiada yang bisa
menggambarkan kebahagiaannya saat itu, tetapi yang lebih ia rasakan
adalah rasa syukur. Teringat setiap kala ia terbangun tiap malam dan
mengadu, memohon dan merintih kepada Rabb-Nya, meminta petunjuk demi
ketenangan hatinya. Dan hari ini, jawaban-Nya telah ia terima.

Friday, 11 February 2011

#Misi21 Day 1: start writing novel

First of all, let me just say... the previous post is a bit emotional, isn't it? Ehehehee.. the worst part is, I said in that post that I wasn't emotional! Hmm.. blame the hormones ;p

Second of all, I failed my first attempt to do #Misi21. It was going to well until I went on a spontaneous trip to Australia. Yups, I got a ticket Jakarta-Melbourne-Sydney-Jakarta one day before I was due to depart. I was told of the trip only three days before departure. Nah, Misi21 terakhir saya adalah that spontaneous trip yang ceritanya saya tuangkan di post sendiri nanti ya. Di Aussie kan sibuk kesana-kemari, jadi chaperone, jadi boro-boro mikirin Misi21. Sekembalinya ke Tanah Air, yang ada tepar di rumah, doing nothing istirahat, jadi ga kepikiran Misi21 karena males2an terus selama beberapa hari hehe. Nah abis itu mulai males deh mulai lagi.. baru hari ini semangats.

Hari ini jadi Misi21 saya adalah mulai menulis novel. Sudah dari duluu pengen bisa menyelesaikan 1 novel, tapi kena writer's block mulu. Geregetan jadinya. Karena sekarang kan saya pengangguran, jika waktunya bisa dipakai untuk menulis novel kan jadi tidak terbuang percuma. Tapi begitu duduk dihadapan laptop dan buka Word, blank deh ga bisa nulis.

Tadi pagi tiba2 dapet pencerahan ide untuk plot novel yang baru. Habis mandi dan shalat dhuha mulai deh dikembangkan, dan Alhamdulillah mulai lancar pengembangan cerita dan kata-kata.. Sekarang sudah jadi prolognya dan sedikit Bab 1. Berhubung sudah mulai malam, lagi ada tamu dan sebentar lagi suami pulang, jadi disudahi dulu.

Ya Allah, semoga Engkau terus menganugerahiku dengan kelancaran kata-kata sehingga novel ini bisa selesai... amin.