Copyright © wichiworld
Design by Dzignine
November 29, 2013

Tentang Integritas

Kami angkatan 7 Program Kepemimpinan LPDP

berjanji akan mengabdi kepada bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia

dengan berlandarkan kepada Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, dan Tri Dharma Perguruan Tinggi

agar tercipta insan yang jujur, bersahaja, dan visioner
Diatas adalah ikrar Program Kepemimpinan LPDP Angkatan 7 yang kami ucapkan setiap kali mulai sesi materi selama 12 hari itu. Tak terkecuali saat sesi "Transformasi Generasi Muda" yang dibawakan Jusuf Kalla alias JK.
Kalau kata Pak JK, beasiswa ini tidak ada ikatan dinas.. tidak harus mengabdi kepada negara setelah selesai studi dan dituntut di ranah hukum jika melanggar kontrak ikatan dinas misalnya. Tapi, ini ikrar yang kami ucapkan tiap hari, kontraknya lebih tinggi lagi karena sama Tuhan. Beuhhh...

Pak JK juga bilang "Jujur itu.. ketika ada kesempatan (berbuat tidak benar) dan kita tidak mengambilnya." Pas sesi Pak Jimly Asshidiqie juga bilang hal yang sama. Terdengar simpel banget kan yah, caranya jujur. (NB: Masalah bangsa ini memang kurang pemimpin yang jujur atau berintegritas, sehingga LPDP melalui program beasiswa yang mewajibkan pesertanya ikut program kepemimpinan macam ini berharap dari awardee LPDP ada yang jadi pemimpin bangsa yang jujur, berintegritas tinggi, beretika dlsb.)

Buat saya pribadi, merasa masih belum jadi apa-apa, gak ambil pusing mikirin harus jujur, beretika dan lain-lainnya itu. Sampai kemarin, terjebak macet di Jakarta pas pulang kantor.

Tau yah, kayak apa menderitanya. Ditambah saat itu bawa Raka yang tantrum nangis sekuat-kuatnya ingin dipangku ibunya sementara ibunya nyetir. Ngerti sih, dia lapar dan ngantuk sementara kita terjebak macet di tengah2 jalan gak bisa melipir kemana2. Di samping itu, udah kelamaan ninggalin Rai, gak sempet merah ASI, PD udah keras membatu dan sakit. Super menderita. Nyetir di jalur samping busway. Ya ampun, godaannya untuk masuk jalur busway aja yang kosong, toh niatnya mau putar balik jadi ya harus ambil jalur mepet kanan. Demi anak ini, demi anaaak...
Tapi kemudian inget pas JK ngomong gitu. Dih, baru gini doang aja udah mau ngelanggar aturan.. gimana mau jadi pemimpin (cie cieee.. aminin lah yaaa). Ngerti deh gimana koruptor2 itu, pasti dalam benaknya dia gak ngerasa dirinya kriminal, memperkaya diri ya buat menghidupi keluarganya juga. Rata2 koruptor itu udah berkeluarga, toh? Bahkan ada yang harus ngebulin dapur lebih dari satu, makanya butuh duit ekstra. Akhirnya saya mengerti gimana rasanya orang2 yg memiliki kekuasaan dan punya kesempatan itu, bisa perang batin dengan dirinya sendiri.

Alhamdulillah waktu itu lolos dari godaan untuk tidak melanggar aturan dan tetap pada jalur yang benar. Kemudian Raka ngamuk lebih parah lagi, nangis teriak2 kayak kesetanan.. Gustii.. Maghrib2 pulaa.. Terpaksa abis keluar tol, dari Pancoran sampai rumah di Pasar Minggu, Raka duduk dan tertidur di pangkuan saya yang lagi nyetir. Sama aja ya dosa2 juga membahayakan diri dan anak seperti itu, hiks. Perlu banyak belajar lagi nih jadi orangtua yang baik, jadi warga negara yang baik, jadi calon pemimpin yang baik....

0 comments:

Post a Comment