Friday, 11 February 2011

#Misi21 Day 1: start writing novel

First of all, let me just say... the previous post is a bit emotional, isn't it? Ehehehee.. the worst part is, I said in that post that I wasn't emotional! Hmm.. blame the hormones ;p

Second of all, I failed my first attempt to do #Misi21. It was going to well until I went on a spontaneous trip to Australia. Yups, I got a ticket Jakarta-Melbourne-Sydney-Jakarta one day before I was due to depart. I was told of the trip only three days before departure. Nah, Misi21 terakhir saya adalah that spontaneous trip yang ceritanya saya tuangkan di post sendiri nanti ya. Di Aussie kan sibuk kesana-kemari, jadi chaperone, jadi boro-boro mikirin Misi21. Sekembalinya ke Tanah Air, yang ada tepar di rumah, doing nothing istirahat, jadi ga kepikiran Misi21 karena males2an terus selama beberapa hari hehe. Nah abis itu mulai males deh mulai lagi.. baru hari ini semangats.

Hari ini jadi Misi21 saya adalah mulai menulis novel. Sudah dari duluu pengen bisa menyelesaikan 1 novel, tapi kena writer's block mulu. Geregetan jadinya. Karena sekarang kan saya pengangguran, jika waktunya bisa dipakai untuk menulis novel kan jadi tidak terbuang percuma. Tapi begitu duduk dihadapan laptop dan buka Word, blank deh ga bisa nulis.

Tadi pagi tiba2 dapet pencerahan ide untuk plot novel yang baru. Habis mandi dan shalat dhuha mulai deh dikembangkan, dan Alhamdulillah mulai lancar pengembangan cerita dan kata-kata.. Sekarang sudah jadi prolognya dan sedikit Bab 1. Berhubung sudah mulai malam, lagi ada tamu dan sebentar lagi suami pulang, jadi disudahi dulu.

Ya Allah, semoga Engkau terus menganugerahiku dengan kelancaran kata-kata sehingga novel ini bisa selesai... amin.

Alanda,Twitter, dan Saya


Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman di Twitter men-tweet tentang “terusiknya rasa keadilan” yang merujuk pada cerita Alanda Kariza, mahasiswi 19 tahun yang curhat di blog-nya tentang ibunya yang divonis 10 tahun penjara dan denda 10 milyar rupiah terkait kasus bombastis Bank Century. Alanda, yang aktif di Twitter, men-tweet tentang tulisan di blog-nya, yang langsung di-retweet (RT) para pengguna Twitter Indonesia. Dalam waktu hanya beberapa hari tersebut, kisahnya sudah merambah komunitas Twitter yang memberi dukungan kepada Alanda, beberapa menggunakan hashtag #helpAlanda. Pesohor Twitter Indonesia seperti Goenawan Moehamad juga turut me-retweet, juga para tokoh lainnya seperti Todung Mulya Lubis. Berita ini pun merambah dari jurnalisme Twitter ke jurnalisme jalur “resmi”, media cetak maupun elektronik berlomba memberitakan kasus ibu Alanda ini. Bahkan, hari ini (Jum’at, 11/02/2011), kisah Alanda menghiasi halaman depan harian nasional terkemuka Kompas.

Saya tidak ingin bercerita lebih jauh tentang kisah Alanda, karena pasti para netizen sudah pada tahu, kalau belum, Google pasti akan memberikan jawaban lebih baik dan rinci. Saya hanya ingin berbagi bagaimana penyikapan kita (ehm, lebih tepatnya saya kali ya..) tentang kasus ini.

Seperti yang dilihat, reaksi publik, setidaknya yang terekam di dunia maya ini, mendukung Alanda, yang menyatakan betapa tidak adilnya hukuman yang dijatuhkan kepada ibunya, jika dibandingkan dengan bosnya yang dihukum lebih ringan, atau jika dibandingkan dengan Gayus Tambunan. Tetapi ada juga yang melihat sikap Alanda dan dukungan terhadapnya berlebihan. Karena koruptor ya tetap koruptor. Dan bagaimanapun putusan pengadilan tidak sembarangan, pasti melalui proses yang meskipun sarat “keanehan”, tidak mungkin sebejat itu.

Saya memang tidak menyangkal kalau hukum di Indonesia carut-marut. Namun, saya berpendapat bahwa dukungan terhadap Alanda, yang ditunjukkan dengan satu RT di Twitter dan beberapa kalimat dengan 140 karakter lebih terhadap emosional dan latah. Call me insensitive, then. Tapi saya mengerti bagaimana emosi terpancing membaca berita 140 karakter yang kontroversial. Dengan membaca 140 karakter, hati bisa bergejolak dan penuh prasangka, dan balasan kita yang 140 karakter itu bisa dinilai orang lain dan membuat hati mereka sama bergejolaknya.

Saya bisa sedikit tidak terlalu emosional, karena saya mengerti kasus ini dan bisa berempati dengan rasa yang lebih tenang. Saya bukan ahli hukum, dan tidak ada sangkut-pautnya dengan Bank Century. Tapi saya mengalami sendiri yang disebut “keatidakadilan hukum di Indonesia” yang melibatkan anggota keluarga. Seperti Alanda, saya juga merasa anggota keluarga tersebut tidak bersalah. Betapa hidup kami terusik dengan apa yang terjadi sudah bertahun-tahun belakangan ini. Ya, saya mengalaminya bertahun-tahun, dan belum juga reda. Tiap hari kami berjuang, tiap hari kami hanya bisa berdoa dan tetap melakukan yang terbaik bagi diri kami, keluarga kami, dan juga bangsa yang kami cintai. Sandungan-sandungan itu tetap ada. Namun, saat ini saya sudah mulai ikhlas. Hanya keyakinan kami bahwa kebaikan akan menang pada akhirnya yang membuat kami bisa terus bertahan. Keyakinan itulah yang membuat kami lebih kuat, lebih pasrah, dan lebih bijak.

Apapun yang terjadi, itu yang terbaik. Pada akhirnya, kita akan menjadi orang yang lebih baik. Cobaan menjadikan kita kuat. Ujian di dunia yang bisa kita atasi menjamin kesempatan kita mendapat tempat yang baik di akhirat. Itu yang bisa saya katakan untuk Alanda. Allah tidak akan menguji hambaNya jika dia tidak mampu melewatinya. Dan keberhasilan kita melewati ujianNya menjadikan kita lebih mulia dihadapanNya. Jangan pernah berhenti percaya, dan jangan sampai mengutuk manusia lainnya. Percaya Allah akan membalas dia yang bersalah, percaya Allah akan menggugurkan dosa-dosa kita dan menambahkan dosa-dosa itu ke mereka yang zhalim. Berdoalah terus, berdoalah mereka diberi hidayah oleh Allah. Berdoalah seluruh negeri ini akan dihujani oleh hidayahNya, sehingga tercipta negeri kita yang sejahtera dan madani. Ingat, saat semua terenggut dari kita, hanya iman yang tidak bisa secara paksa direnggut manusia jika kita haqqul yaqin. Itulah kekuatan kita. Bertahanlah, dan teruslah percaya pada kebaikan.

Dan untuk para  netizen dan pengguna Twitter, saya menyarankan untuk menggunakannya dengan bijak. Sebelum berpendapat, pikirkanlah konsekuensinya. Hindari su'uzon, asal RT, dan tweet2 penuh emosi. Jangan terlalu cepat menilai orang dari 140 karakter. Well, overall, don't judge people. We don't have th e right to, itu bagiannya Allah yang menilai manusia. See things from all sides, stay objective and most of all positive. Hanya kebaikan yang bisa menghasilkan kebaikan. Being good never does harm, even though sometimes it doesn't seem that way.

Saya jadi sangat ingin menutup akun Twitter saya kembali.. saya takut akan jadi (mungkin sudah jadi) berkacamata kuda dengan menggunakan Twitter tiap hari.

Allahumma arinil haqqa haqqa war zuqnittibaa‘ah waarinil baathila baathila war zuqnittinaabah. Alhamdulillaahi rabbil ‘aalamin.
Ya Allah, perlihatkan kepadaku, kebenaran itu sebagai suatu hal yang benar, dan anugerahkan kepadaku kekuatan untuk mengikuti kebenaran itu. Dan perlihatkan kepadaku kesalahan itu sebagai suatu hal yang salah, dan anugerahkan kepadaku kekuatan untuk menjauhi kesalahan itu. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.
Amin.

Wednesday, 26 January 2011

#Misi21 Day 6: Say Sorry and I Love You to Dear Husband

Misi21 hari ini simple aja. Setelah shalat Maghrib berjamaah bersama Akang, I said I love you to him dan minta maaf kalo selama ini ada salah2, suka kesel2, dll dsb.Jadi saya akhirnya minta maaf, dan berdoa supaya bisa jadi istri yang sabar dan shalihah..amin. :)

His response? A hug and a kiss for his beloved wife, sambil bilang "Semua kesalahan Eneng sudah Akang maafkan.." Yes.. I do have the best husband in the world. :)

Tuesday, 25 January 2011

#Misi21 Day 5: Menghadiri Kajian Muslimah

Tadinya #Misi21 hari ini komplitnya adalah: "Menghadiri Kajian Muslimah dan Tabligh Akbar" .. tapi pada kenyataannya cuma sempat ke Kajian Muslimah aja, itupun telat.

Semua berawal dari salah naik angkot. Yaa bener sih jurusannya, tapi ini Metro Mini kerjanya ngetem mulu. Walhasil perjalanan dari rumah Pasar Minggu ke halte busway Jatipadang yang seharusnya bisa ditempuh 10-15menit, jadi 45menit sajaa.. mau nangis nggak sihh.. huhuww.. Belum lagi saltum nih, pakenya rok span yang agak2 ribet kalo jalan,sementara lumayan tuh yah dari halte Dukuh Atas 2 ke Dukuh Atas 1 yang arah Blok M- Kota. Pas turun di halte BI juga ternyataa lokasi mesjid di belakang kantornya, dari Thamrin masih 1 km lagi jaraknya. Hikss lagi.. Udah pengen cepet2 sampe jalannya agak buru2, disamping trotoarnya jadi jadi ga nyaman deh jalannya. Pas sampe, udah mulai acaranya, masih harus shalat Ashar dulu. Tapi masih dapet lah materinya, tentang Taubat. Cuma ustadzah-nya bukan Bunda Ningrum Maurice, namanya Ustadzah Halimah, saya juga belum kenal, tapi masih muda dan cantik dan Bahasa Arabnya pinter (yaiyalah ustadzah gitu).

Di mesjid itu juga dingin banget.. dan tampaknya saya jadi pusing karena abis panas keringetan di jalan langsung masuk ruangan AC nan sejuk itu. Jadi aja pas udah selesai acaranya, si akang nelpon, saya agak cranky karena kecapean dan memutuskan untuk ga ikut tabligh akbar yang disampaikan da'i favorit saya (despite what happens to him personally), Aa Gym. Oiya agak cranky juga karena pas lagi muhasabah, sedang tersedu2 mendengar si ustadzah memberi muhasabah yg menyentuh, si akang berkali2 nelpon, saya reject, kan ga khusyuk ntar berdoanya..Tapi abis itu langsung istighfar (langsung dipraktekin saran ustadzah) dan Akang juga nggak ngambil pusing, begitu ketemu langsung saya disambut dengan senyuman :)

Habis Maghrib baru ke atas nemuin akang yg baru pulang kantor, saya bilang boleh ikut kajian malam tapi makan dulu sekarang. Akhirnya akang jadinya ga ikut, jadinya nganter istrinya pulang, Ya ga bakal diijinin juga saya pulang sendirian jam segitu. Soalnya kalo ikut kajian juga selesainya malam jam9an, mau sampe rumah jam berapa. Akhirnya kita pulang, perdana nih naik motor berduaan. Tadinya seru, bakal romantis gitu. Ternyata boro2. Saya pake rok kan harus nyamping duduknya, dan pegel ternyata kalo harus melingkarkan lengan di pinggang suamiku. Jadi tetap aja pegangan ke belakang kayak naik ojek hehe. Sampe diprotes deh sama Akang, kurang romantis pegangannya. Lah mau gimana lagi, pegel bo badan diputer2. Sampe rumah, Akang kapok bonceng Eneng (curiga keberatan sayanya), dan Eneng juga kapok dibonceng, pinggang punggung pegel2...

Tapi Alhamdulillaaah dimudahkan juga jalan sampai ke mesjid setelah sekian lama. Tapi ke depannya nggak lagi2 deh saya ikutan MMQ yang di BI. Datang ke Masjid Pondok Indah aja seperti biasa. Mungkin juga ke Masjid Alatief Pasaraya. Karena nggak jauh dari rumah, kesananya ga ribet, dan acaranya ga sore (untuk di Masjid Alatief).

Kalo ada yang berminat hadir di Majlis Manajemen Qolbu (kajian Muslimah - kajian Qur'an tematik - tabligh akbar bersama Aa Gym), bisa lihat jadwalnya di situs Daarut Tauhid Jakarta. Tapi kalo di Bandung, silakan datang ke Pesantren DT Gegerkalong tiap malam Jum'at, kalo perlu i'tikaf disana... makyuss dehh.. I've been doing it for years ;)

batal dapat siraman rohani dari Aa Gym, tapi tetap dapat penyejuk qalbu dari Kajian Muslimah

#Misi21 Day 4: Ke Bandung, meet new baby and my girls

the design of our T-shirt..yes we have a T-shirt made exclusively for us 8!
Ohh it feels good to meet besties you haven't seen in months and even years.. right?? I was soo looking forward for this moment.. bisa ketemu Siberat, "geng" saya selama kuliah S1 dulu, dalam rangka nengokin anak salah satu anggota kami (cuih) yang baru melahirkan. Tadinya hampir mau kumplit ngumpul di Bandung, tapi ada yang ngga jadi karena nyokapnya sakit, dan satu lagi anak2nya sakit.. dan si baby yang mau ditengok pun sakit kuning jadi masuk RS lagi.. hehe. Tapi akhirnya ketemu juga sama Anggi, Amel, dan tentunya Santi. Duh ternyata kangen deh. Ngobrol di RS 2 jam, nengok dede cuma 1 menit. Karena di ruangan khusus di sinarin UV si dede, kasian yah.

Dari RS cuma sempet makan siang di Ciwalk bertiga sama Akang dan Anggi. Akang kesampean makan tutut disana. Haha. Trus saya kesampean beli DVD tapi cuma sedikit karena pas milih banyak, dicobain, kok ngadat2.. entah DVD player-nya atau memang kasetnya. Jadinya urung beli banyak, cuma beli yang berhasil dicoba aja.

Sebelum ketemuan juga sempet menunaikan amanah Mama, yaitu mengunjungi panti asuhan di Purnawarman, berinfaq sekaligus nengokin bayi2nya. Disana lagi banyak bayi2 yang masih merah.. Huhu pengen dibawa pulang ajah. Kasian disana ga dapet kasih sayang orang tua.. Nyusu aja sendiri lho, ga pake digendong sama pengasuhnya. Memang disana dari bayi udah diajar mandiri, karena mereka juga ga punya siapa2 untuk manja2an. Kita juga nggak boleh gendong anak2nya karena mereka nanti nangis minta ikut sama kita :( Bersyukur ya masih punya keluarga, dan punya orangtua yang mampu menopang kebutuhan kita sebagai anak2nya.

Coincidentally, pas di Bandung ketemu salah satu temen kuliah di ATM. Eh pas sampe Jakarta, naik Metro Mini didepan saya ada yang nyapa, ternyata temen SMA! Ngasihtau kalo sahabat saya jaman SMA - temen Paskib, temen sebangku, temen pulang sekolah bareng - udah melahirkan. Hihi senang jadi bisa bertemu banyak orang.

Meskipun hari itu Akang lagi sakit, dan pulangnya seperti biasa si Eneng yang sakit masuk angin muntah2.. overall the day was good. Senang bisa bertemu temen2, haha-hihi bersama, dan menghabiskan waktu jalan2 bersama Akang yang supersibuk sekarang.